Rusia Kehilangan Artileri Besar. Rusia mengalami kerugian artileri paling berat dalam satu hari sejak awal 2025, dengan Ukraina mengklaim menghancurkan atau melumpuhkan lebih dari 120 unit sistem artileri dalam 24 jam terakhir per 27 Januari 2026. Angka ini mencakup howitzer swa-gerak 2S19 Msta-S, 2S3 Akatsiya, 2S5 Giatsint-S, serta sistem roket BM-21 Grad dan BM-27 Uragan. Kerugian besar ini terjadi di sektor Pokrovsk, Kurakhove, dan Kupiansk, di mana pasukan Ukraina memanfaatkan drone FPV, artileri presisi, dan rudal anti-radiasi untuk menargetkan baterai artileri Rusia yang sedang aktif menembak. Laporan ini memperkuat tren penurunan kemampuan tembak jarak jauh Rusia di garis depan, yang sudah terlihat sejak akhir 2024. REVIEW FILM
Kronologi Kerugian Terbaru: Rusia Kehilangan Artileri Besar
Menurut data yang dirilis oleh layanan intelijen militer Ukraina (GUR) dan diverifikasi sebagian melalui rekaman drone serta citra satelit, Rusia kehilangan setidaknya 78 howitzer swa-gerak, 32 sistem roket peluncur ganda, dan 12 unit artileri tarik dalam periode 26–27 Januari. Sebagian besar kerusakan terjadi di sektor Pokrovsk, di mana pasukan Ukraina berhasil menghancurkan klaster artileri Rusia yang sedang mendukung serangan infanteri. Drone FPV menjadi senjata utama, dengan tingkat keberhasilan mencapai lebih dari 70% pada target yang terdeteksi. Selain itu, rudal anti-radiasi HARMs dan rudal Storm Shadow/SCALP-EG digunakan untuk menargetkan sistem radar kontra-baterai Zoopark dan Borisoglebsk-2. Kerugian ini menambah daftar panjang artileri Rusia yang hilang sejak Februari 2022, dengan estimasi total lebih dari 9.500 unit artileri berbagai jenis yang telah rusak atau hancur hingga akhir Januari 2026.
Dampak Strategis bagi Rusia: Rusia Kehilangan Artileri Besar
Kerugian artileri dalam skala besar ini memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan operasional Rusia di garis depan. Artileri tetap menjadi tulang punggung doktrin tempur Rusia, dan penurunan jumlah tabung aktif memaksa pasukan mengurangi volume tembakan harian dari rata-rata 40.000–60.000 peluru per hari pada 2024 menjadi hanya sekitar 15.000–20.000 peluru per hari pada Januari 2026. Di sisi lain, Ukraina berhasil mempertahankan laju produksi dan impor artileri, termasuk howitzer 155 mm dari Barat serta amunisi yang diproduksi lokal. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan tembakan yang semakin terasa, di mana Ukraina kini mampu memberikan respons kontra-baterai yang lebih cepat dan akurat. Pasukan Rusia di sektor Pokrovsk dan Kurakhove dilaporkan mengalami kesulitan menekan pertahanan Ukraina karena kurangnya dukungan tembakan artileri yang konsisten.
Respons Rusia dan Upaya Pemulihan: Rusia Kehilangan Artileri Besar
Kementerian Pertahanan Rusia belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kerugian terbaru ini, sesuai pola yang sudah berlangsung sejak 2022. Namun laporan dari komunitas analis militer Rusia di Telegram mengakui adanya tekanan besar pada stok artileri, terutama sistem swa-gerak yang sulit diproduksi cepat. Rusia dilaporkan meningkatkan produksi 2S19 Msta-S dan 2S35 Koalitsiya-SV, tapi laju produksi masih jauh di bawah tingkat kerusakan. Di sisi lain, Rusia terus mengandalkan artileri tarik dan sistem roket lama seperti Grad dan Uragan untuk mengisi kekosongan, meski akurasi dan mobilitasnya jauh lebih rendah. Beberapa analis memperkirakan bahwa jika laju kerugian seperti ini berlanjut, Rusia bisa menghadapi krisis stok artileri serius pada pertengahan 2026.
Kesimpulan
Kerugian artileri besar Rusia pada 26–27 Januari 2026 menjadi indikator paling jelas bahwa keseimbangan tembakan di garis depan Ukraina semakin bergeser. Dengan lebih dari 120 unit artileri hilang dalam satu hari, kemampuan Rusia untuk mendukung operasi ofensif semakin terbatas, sementara Ukraina terus memanfaatkan drone dan senjata presisi Barat untuk menekan baterai artileri musuh. Meski Rusia masih memiliki stok besar secara keseluruhan, laju kerusakan yang tinggi dan produksi yang lambat bisa menjadi masalah serius dalam beberapa bulan ke depan. Perang di Ukraina memasuki fase di mana artileri bukan lagi keunggulan mutlak Rusia—dan itu bisa mengubah dinamika pertempuran di 2026. Situasi ini masih terus berkembang, tapi satu hal jelas: artileri tetap menjadi penentu utama di medan perang modern.