Rusia Intensifkan Serangan di Donetsk, Ukraina. Rusia kembali menggencarkan serangan di wilayah Donetsk selama 48 jam terakhir hingga 31 Januari 2026. Pasukan Rusia melancarkan gelombang artileri, rudal, dan serangan drone yang menargetkan posisi Ukraina di Pokrovsk, Kurakhove, dan Velyka Novosilka. Serangan ini merupakan yang terkuat sejak awal Januari, dengan laporan militer Ukraina mencatat lebih dari 1.200 serangan artileri dan 45 serangan udara dalam dua hari. Wilayah barat Donetsk menjadi fokus utama, sementara pasukan Ukraina melaporkan kerugian signifikan di beberapa sektor. Situasi ini menunjukkan upaya Rusia untuk memperluas kendali sebelum musim semi tiba dan tanah becek menghambat pergerakan pasukan besar. REVIEW FILM
Serangan Terfokus di Pokrovsk dan Kurakhove: Rusia Intensifkan Serangan di Donetsk, Ukraina
Pokrovsk tetap menjadi titik panas utama. Pasukan Rusia menggunakan kombinasi artileri berat, bom berpemandu FAB-500/1500, dan drone kamikaze Lancet serta Shahed untuk menekan posisi Ukraina di sepanjang garis Pokrovsk–Kurakhove. Dalam 48 jam terakhir, Ukraina melaporkan lebih dari 600 serangan artileri di sektor ini saja. Beberapa desa kecil di sekitar Pokrovsk, termasuk Selydove dan Novohrodivka, mengalami kerusakan parah pada infrastruktur sipil, meski evakuasi warga sipil sudah dilakukan sejak akhir 2025.
Di Kurakhove, Rusia tampaknya berusaha memotong jalur logistik Ukraina menuju Pokrovsk dengan serangan berulang ke selatan dan barat daya kota. Serangan drone Shahed malam itu menyasar gudang amunisi dan pos komando, sementara artileri terus menghantam posisi pertahanan. Ukraina mengklaim telah menghancurkan beberapa kendaraan tempur Rusia, termasuk tank T-90 dan BMP-3, serta menembak jatuh 32 drone dalam 24 jam terakhir. Namun tekanan terus meningkat, dan beberapa posisi Ukraina dilaporkan mundur beberapa ratus meter di sektor selatan Kurakhove.
Dukungan Rudal dan Drone Rusia yang Meningkat: Rusia Intensifkan Serangan di Donetsk, Ukraina
Selain artileri konvensional, Rusia menggunakan rudal balistik Iskander-M dan rudal jelajah Kh-101/Kh-555 untuk menyerang target di belakang garis depan. Dua serangan rudal Iskander menghantam area logistik di Kramatorsk dan Sloviansk pada malam 30 Januari, menyebabkan kerusakan fasilitas penyimpanan dan beberapa korban di kalangan personel militer Ukraina. Serangan drone Shahed mencapai jumlah tertinggi dalam sebulan, dengan 78 drone diluncurkan dalam dua malam terakhir—mayoritas dicegat, tapi beberapa berhasil mengenai gardu listrik dan depo bahan bakar di Donetsk dan Kharkiv.
Ukraina merespons dengan serangan drone ke wilayah Belgorod dan Kursk, serta tembakan artileri HIMARS ke posisi Rusia di sekitar Horlivka dan Donetsk kota. Namun intensitas serangan Rusia di Donetsk jauh lebih tinggi, menunjukkan prioritas strategis Moskow untuk mengamankan wilayah tersebut sebelum musim semi.
Dampak terhadap Sipil dan Situasi Kemanusiaan
Meski pertempuran utama terjadi di garis depan, dampak terhadap warga sipil tetap signifikan. Di Pokrovsk dan Kurakhove, listrik padam di sebagian besar wilayah akibat serangan rudal dan drone ke gardu induk. Beberapa sekolah dan rumah sakit lapangan terpaksa beroperasi dengan generator. Evakuasi warga sipil dari desa-desa terdepan terus berlangsung, dengan lebih dari 4.000 orang dipindahkan dalam dua hari terakhir. Organisasi kemanusiaan melaporkan kesulitan mengirim bantuan karena jalan utama sering terkena tembakan artileri.
Kesimpulan
Intensifikasi serangan Rusia di Donetsk menunjukkan bahwa Moskow belum menyerah pada tujuan menguasai seluruh wilayah tersebut. Tekanan berat di Pokrovsk dan Kurakhove menjadi ujian serius bagi pertahanan Ukraina, terutama setelah bantuan militer Barat mulai terbatas akibat kelelahan donor. Meski Ukraina masih mampu bertahan dan melakukan serangan balasan terbatas, situasi di lapangan tetap sangat sulit. Dunia kini menunggu apakah gencatan senjata yang rapuh dapat dipertahankan atau justru runtuh sepenuhnya di musim semi. Yang pasti, Donetsk kembali menjadi medan pertempuran paling berdarah di Eropa—dan biaya kemanusiaannya terus bertambah setiap hari. Semoga diplomasi masih punya kesempatan sebelum semuanya semakin memburuk.