Putin Telepon Trump Bahas Gencatan Senjata Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis malam (12 Februari 2026) waktu Moskow. Pembicaraan berlangsung sekitar 50 menit dan menjadi kontak langsung pertama keduanya sejak Trump kembali menjabat Januari lalu. Topik utama yang dibahas adalah kemungkinan gencatan senjata di Ukraina serta langkah-langkah menuju negosiasi damai yang lebih luas. Menurut pernyataan resmi Kremlin, kedua pemimpin sepakat bahwa perang yang sudah memasuki tahun keempat harus diakhiri secepat mungkin demi kepentingan kedua negara dan stabilitas global. Sementara Gedung Putih menyebut percakapan itu “produktif dan langsung”, meski belum ada komitmen konkret yang diumumkan. REVIEW KOMIK
Isi Pembicaraan dan Poin Utama: Putin Telepon Trump Bahas Gencatan Senjata Ukraina
Putin menekankan bahwa Rusia siap menghentikan operasi militer jika Barat menghentikan pengiriman senjata ke Ukraina dan Kyiv bersedia duduk di meja perundingan tanpa prasyarat. Ia juga menyampaikan kekhawatiran atas perluasan NATO ke timur dan sanksi ekonomi yang masih berlaku. Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak ingin terlibat lebih dalam dalam konflik Eropa dan ingin melihat penyelesaian damai yang “cepat dan adil”. Ia menyinggung kemungkinan pembicaraan langsung antara Ukraina dan Rusia dengan mediasi AS, serta menawarkan jaminan keamanan tertentu bagi Rusia jika kesepakatan tercapai.
Kedua pemimpin juga membahas isu energi dan perdagangan. Trump disebut-sebut menyentuh potensi kembalinya Rusia ke pasar minyak global dengan harga yang lebih stabil, sementara Putin menyinggung pentingnya normalisasi hubungan ekonomi pasca-konflik. Tidak ada kesepakatan formal yang diumumkan, tetapi kedua pihak sepakat untuk melanjutkan komunikasi melalui saluran diplomatik dan mungkin pertemuan tingkat menteri luar negeri dalam waktu dekat. Kremlin menyatakan bahwa Putin mengundang Trump berkunjung ke Moskow atau Sochi, sementara Gedung Putih hanya menyebut “komunikasi akan berlanjut”.
Reaksi dan Dampak Langsung: Putin Telepon Trump Bahas Gencatan Senjata Ukraina
Panggilan ini langsung memicu respons beragam di berbagai ibu kota. Di Kyiv, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa setiap pembicaraan tentang gencatan senjata harus melibatkan Ukraina sebagai pihak utama dan tidak boleh mengorbankan kedaulatan wilayah. Ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menerima kesepakatan yang menguntungkan Rusia secara sepihak. Di Eropa, Jerman dan Prancis menyambut baik langkah diplomasi, tetapi menekankan bahwa gencatan senjata harus disertai jaminan keamanan jangka panjang bagi Ukraina.
Pasar keuangan bereaksi positif: indeks saham Eropa naik rata-rata 1,2–1,8 persen pada Jumat pagi, sementara harga minyak Brent turun sekitar 2,5 persen karena ekspektasi pasokan Rusia yang lebih stabil. Rupiah terhadap dolar AS sempat menguat tipis ke Rp16.480 sebelum kembali melemah karena sentimen global yang masih berfluktuasi. Di dalam negeri Rusia, media pemerintah memuji langkah Putin sebagai “diplomasi yang tegas namun terbuka”, sementara oposisi mengkritik bahwa pembicaraan semacam ini hanya akan menguntungkan Moskow tanpa jaminan nyata bagi Ukraina.
Kesimpulan
Panggilan telepon antara Putin dan Trump menjadi sinyal pertama bahwa diplomasi tingkat tinggi antara Washington dan Moskow mulai bergerak lagi setelah hampir empat tahun konflik. Meski belum ada terobosan konkret, kesediaan kedua pemimpin untuk berbicara langsung menunjukkan adanya ruang untuk negosiasi, terutama setelah tekanan ekonomi dan militer yang semakin terasa di kedua belah pihak. Namun jalan menuju gencatan senjata yang berkelanjutan masih panjang dan penuh rintangan, terutama karena posisi Kyiv yang menolak kompromi teritorial serta kekhawatiran Eropa terhadap keamanan kawasan. Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, perkembangan ini patut dipantau karena berpotensi memengaruhi harga energi, pangan, dan stabilitas pasar global. Yang jelas, dunia kini menunggu langkah berikutnya: apakah panggilan ini hanya diplomasi simbolis, atau awal dari proses damai yang sesungguhnya di Ukraina.