iran-memberikan-peringatan-kepada-as-di-pbb

Iran Memberikan Peringatan Kepada AS di PBB. Wakil Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Gholam Hossein Darzi, menyampaikan peringatan tegas kepada Amerika Serikat selama sidang darurat Dewan Keamanan pada Kamis malam, 16 Januari 2026. Dalam pidatonya, Darzi menyatakan bahwa segala bentuk intervensi militer atau provokasi lebih lanjut dari AS terhadap Iran akan dibalas dengan respons keras sesuai Pasal 51 Piagam PBB yang menjamin hak bela diri. Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas tuduhan AS bahwa Iran mendukung kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah serta terus memperkaya uranium hingga tingkat mendekati senjata nuklir. Sidang yang berlangsung lebih dari tiga jam ini kembali menegaskan ketegangan tinggi antara kedua negara yang sudah berlangsung puluhan tahun, dan peringatan Iran kali ini terdengar lebih tajam dibandingkan sebelumnya. BERITA TERKINI

Latar Belakang Ketegangan Terkini: Iran Memberikan Peringatan Kepada AS di PBB

Ketegangan antara Iran dan AS kembali memanas sejak akhir 2025 ketika AS mengklaim memiliki bukti intelijen bahwa Iran meningkatkan pengayaan uranium hingga 90 persen, tingkat yang cukup untuk bahan baku senjata nuklir. Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan program nuklirnya murni untuk tujuan damai serta sipil. Situasi semakin rumit setelah serangkaian serangan terhadap pangkalan militer AS di Irak dan Suriah yang diduga dilakukan oleh milisi pro-Iran. Washington merespons dengan sanksi baru terhadap beberapa perusahaan dan individu Iran serta mengirimkan kapal induk tambahan ke Teluk Persia. Iran melihat langkah-langkah ini sebagai provokasi langsung dan ancaman terhadap kedaulatan nasional. Pidato Darzi di PBB menjadi puncak dari serangkaian pernyataan keras pejabat Iran dalam beberapa minggu terakhir, termasuk pernyataan Pemimpin Tertinggi yang menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur satu langkah pun jika diserang.

Isi Peringatan dan Respons AS: Iran Memberikan Peringatan Kepada AS di PBB

Darzi menekankan bahwa Iran tidak mencari perang tetapi tidak akan ragu membalas jika kedaulatannya diganggu. Ia menuding AS telah melakukan serangkaian tindakan agresif, mulai dari pembunuhan ilmuwan nuklir Iran beberapa tahun lalu hingga serangan siber terhadap infrastruktur energi. Wakil duta besar itu juga menyinggung bahwa kehadiran militer AS di kawasan Teluk justru menjadi sumber ketidakstabilan, bukan solusi. Di sisi lain, Duta Besar AS Mike Waltz membalas dengan menyatakan bahwa Iran adalah sponsor terorisme nomor satu di dunia dan program nuklirnya sudah melanggar kesepakatan internasional. Waltz menegaskan bahwa AS bersama sekutunya akan menggunakan segala cara, termasuk kekuatan militer jika perlu, untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pertukaran kata-kata tajam ini membuat sidang berlangsung tegang dan hampir tidak menghasilkan komunike bersama, hanya pernyataan terpisah dari masing-masing pihak.

Reaksi Internasional dan Dampak Regional

Reaksi dunia terhadap peringatan Iran cukup beragam. Rusia dan Tiongkok mendukung posisi Iran dengan menyerukan pengurangan ketegangan dan kembalinya negosiasi nuklir. Kedua negara itu juga mengkritik AS karena dianggap terlalu agresif dan tidak menghormati kedaulatan negara lain. Uni Eropa melalui pernyataan bersama meminta kedua belah pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Di kawasan Timur Tengah, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyatakan keprihatinan atas eskalasi dan mendukung upaya diplomasi, meski tetap waspada terhadap pengaruh Iran. Sementara itu, harga minyak dunia langsung naik hampir tiga persen setelah pernyataan Darzi karena kekhawatiran akan gangguan pasokan di Selat Hormuz. Di dalam negeri Iran sendiri, pernyataan wakil duta besar mendapat dukungan luas dari masyarakat dan media resmi yang menyebutnya sebagai sikap tegas melawan imperialisme.

Kesimpulan

Peringatan keras dari Iran kepada Amerika Serikat di forum Dewan Keamanan PBB menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara berada pada titik yang sangat rawan. Meski belum ada tanda-tanda konflik terbuka dalam waktu dekat, pernyataan-pernyataan seperti ini bisa menjadi pemicu jika salah satu pihak mengambil langkah militer. Situasi ini juga menjadi ujian bagi diplomasi internasional, terutama bagi negara-negara yang masih ingin menyelamatkan kesepakatan nuklir lama. Kedua belah pihak perlu menahan diri dan membuka kembali saluran komunikasi agar eskalasi tidak berubah menjadi konflik yang lebih luas. Bagi kawasan Timur Tengah yang sudah penuh ketidakstabilan, perdamaian tetap menjadi harapan utama meski tantangannya semakin besar.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *