Netanyahu Tidak Biarkan Iran Memulihkan Program Rudal-Nuklir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan sikap tegas bahwa Israel tidak akan membiarkan Iran memulihkan program rudal dan nuklirnya. Pernyataan ini disampaikan pada 5 Januari 2026 dalam sidang Knesset, di mana ia menekankan koordinasi dengan Amerika Serikat untuk mencegah kebangkitan ancaman dari Tehran. Netanyahu menyebut bahwa kerusakan signifikan yang ditimbulkan Israel selama perang 12 hari pada Juni 2025 harus dipertahankan, dan setiap upaya rekonstruksi Iran akan berhadapan dengan konsekuensi berat. BERITA BASKET
Latar Belakang Kerusakan Program Iran: Netanyahu Tidak Biarkan Iran Memulihkan Program Rudal-Nuklir
Konflik antara Israel dan Iran memuncak pada pertengahan 2025 dengan operasi militer Israel yang menargetkan fasilitas nuklir dan rudal Iran. Perang singkat itu merusak kemampuan produksi rudal balistik Iran secara masif, serta menghambat pengayaan uranium yang menjadi inti program nuklir mereka. Netanyahu menggambarkan kondisi saat ini sebagai peluang untuk menjaga keamanan regional, di mana Israel berhasil mengurangi ancaman eksistensial dari ribuan rudal yang mengancam wilayahnya. Namun, laporan intelijen menunjukkan Iran mulai berupaya rekonstruksi, meski di bawah tekanan sanksi internasional yang ketat.
Pernyataan Netanyahu dan Koordinasi dengan AS: Netanyahu Tidak Biarkan Iran Memulihkan Program Rudal-Nuklir
Dalam pidatonya, Netanyahu menegaskan posisi bersama dengan Presiden Amerika Serikat: zero enrichment capability, penghapusan seluruh uranium yang telah diperkaya dari wilayah Iran, serta pengawasan ketat dan berkelanjutan atas fasilitas nuklir mereka. Ia menambahkan bahwa Israel dan AS tidak akan membiarkan Iran membangun kembali industri rudal balistiknya, yang sebelumnya menjadi senjata utama dalam konfrontasi regional. Pernyataan ini datang setelah pertemuan Netanyahu dengan pemimpin AS baru-baru ini, di mana keduanya sepakat bahwa rekonstruksi program Iran seperti kanker yang harus dihilangkan sepenuhnya untuk menjamin perdamaian.
Implikasi dan Reaksi Internasional
Sikap Netanyahu ini memicu reaksi beragam. Di satu sisi, sekutu Israel seperti negara-negara Teluk mendukung tekanan maksimal terhadap Iran untuk mencegah proliferasi nuklir. Di sisi lain, Iran mengecam pernyataan itu sebagai provokasi, sementara komunitas internasional khawatir eskalasi baru bisa mengganggu stabilitas Timur Tengah. Netanyahu juga menyatakan dukungan bagi rakyat Iran yang sedang protes melawan pemerintahannya, melihatnya sebagai peluang perubahan dari dalam. Namun, ia memperingatkan bahwa serangan apa pun dari Iran akan berujung konsekuensi sangat berat, mengisyaratkan kesiapan Israel untuk aksi preventif jika diperlukan.
Kesimpulan
Netanyahu menegaskan komitmen Israel untuk tidak membiarkan Iran memulihkan program rudal dan nuklirnya, dengan dukungan kuat dari Amerika Serikat. Pernyataan ini pada awal 2026 menjadi sinyal jelas bahwa tekanan terhadap Tehran akan berlanjut, demi menjaga keamanan regional pasca-kerusakan signifikan tahun lalu. Di tengah ketegangan yang masih tinggi, dialog internasional mungkin jadi kunci untuk mencegah konflik baru, meski sikap tegas Israel tampaknya tetap tak tergoyahkan. Masa depan hubungan Israel-Iran bergantung pada kemampuan menjaga status quo ini tanpa provokasi lebih lanjut.