Kurang Aktivitas Fisik Tingkatkan Risiko Penyakit Serius. Kurang aktivitas fisik telah menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit serius di era modern, dengan dampak yang semakin terlihat jelas. Penelitian terkini hingga akhir 2025 menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari—duduk lama tanpa gerak cukup—bertanggung jawab atas jutaan kematian dini setiap tahun secara global. Di Indonesia, mayoritas penduduk dewasa tidak memenuhi rekomendasi minimal 150 menit olahraga moderat per minggu, sehingga risiko penyakit jantung, diabetes, obesitas, hingga kanker melonjak. Para ahli kesehatan terus mengingatkan bahwa kurang gerak bukan hanya masalah kelelahan, tapi ancaman diam yang bisa dicegah dengan kebiasaan sederhana sehari-hari. BERITA BOLA
Dampak Kurang Gerak pada Sistem Kardiovaskular: Kurang Aktivitas Fisik Tingkatkan Risiko Penyakit Serius
Kurang aktivitas fisik melemahkan jantung dan pembuluh darah, karena otot jantung kurang terlatih untuk memompa darah efisien. Tubuh cenderung menumpuk kolesterol jahat, meningkatkan tekanan darah, serta memicu peradangan kronis di arteri. Studi menemukan bahwa orang dengan gaya hidup sedentari memiliki risiko penyakit jantung koroner hingga 2 kali lebih tinggi, serta stroke lebih sering terjadi akibat pembekuan darah. Duduk lama juga mengurangi aliran darah ke kaki, meningkatkan kemungkinan varises dan trombosis vena dalam. Jangka panjang, kondisi ini mempercepat aterosklerosis—penyumbatan arteri yang menjadi penyebab utama serangan jantung mendadak.
Hubungan dengan Obesitas dan Gangguan Metabolik: Kurang Aktivitas Fisik Tingkatkan Risiko Penyakit Serius
Tanpa gerak cukup, kalori yang masuk tidak terbakar optimal, sehingga lemak tubuh menumpuk terutama di perut—visceral fat yang paling berbahaya. Ini memicu resistensi insulin, pemicu utama diabetes tipe 2, dengan risiko hingga 7 kali lebih tinggi pada yang kurang aktif. Penelitian menunjukkan bahwa duduk lebih dari 8 jam sehari berkorelasi dengan obesitas sentral, bahkan pada orang dengan berat badan normal. Kurang gerak juga mengganggu metabolisme glukosa dan lipid, memperburuk sindrom metabolik yang mencakup hipertensi, kolesterol abnormal, dan gula darah tinggi. Pada anak dan remaja, kebiasaan sedentari ini menjadi fondasi obesitas seumur hidup dengan komplikasi dini.
Risiko Lain seperti Kanker dan Kesehatan Mental
Kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko beberapa jenis kanker, seperti usus besar, payudara, dan endometrium, karena hormon dan peradangan tidak terkontrol optimal. Gerak rutin membantu mengatur estrogen serta insulin-like growth factor yang berhubungan dengan pertumbuhan sel kanker. Selain itu, gaya hidup sedentari berkaitan dengan kesehatan mental buruk—risiko depresi dan kecemasan naik hingga 25-30 persen akibat kurang endorfin dan dopamine dari olahraga. Pada tulang dan sendi, kurang beban menyebabkan osteoporosis dini serta nyeri punggung kronis. Bukti terkini juga menunjukkan penurunan fungsi imun, membuat tubuh lebih rentan infeksi.
Kesimpulan
Kurang aktivitas fisik jelas meningkatkan risiko penyakit serius dari jantung hingga kanker, dengan dampak yang terakumulasi diam-diam seiring waktu. Di tengah tuntutan hidup yang membuat banyak orang duduk lama, kesadaran ini menjadi alarm untuk mulai bergerak lebih banyak. Mulai dari jalan kaki 30 menit sehari hingga olahraga ringan rutin sudah memberikan perlindungan signifikan. Pada akhirnya, mengatasi gaya hidup sedentari bukan hanya untuk tubuh lebih bugar, tapi investasi nyata untuk umur panjang bebas penyakit kronis yang mengancam.