Ambisi Trump Untuk Ambil Alih Greenland. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggaungkan ambisinya untuk menguasai Greenland pada akhir Desember 2025. Ia menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk pulau otonom milik Denmark itu, dengan tujuan memajukan kepentingan nasional. Trump menegaskan bahwa Greenland sangat esensial bagi keamanan nasional AS, di tengah persaingan geopolitik di Arktik. Langkah ini langsung memicu protes keras dari pemerintah Denmark dan Greenland, yang menolak segala bentuk aneksasi dan menegaskan kedaulatan wilayah mereka. BERITA VOLI
Alasan Strategis di Balik Ambisi: Ambisi Trump Untuk Ambil Alih Greenland
Trump menyebut Greenland sebagai kebutuhan mutlak untuk keamanan nasional, bukan semata karena kekayaan mineralnya. Lokasi pulau terbesar di dunia ini berada di jalur strategis antara Eropa dan Amerika Utara, dengan pangkalan militer AS yang sudah ada sejak Perang Dingin. Kehadiran kapal Rusia dan China di perairan sekitar semakin menjadi alasan utama, karena Greenland berperan penting dalam sistem peringatan dini rudal dan pengawasan Arktik.
Selain itu, pulau ini kaya akan mineral langka seperti grafit, tembaga, nikel, dan litium yang krusial untuk teknologi modern. Trump melihat penguasaan Greenland bisa memperkuat posisi AS dalam persaingan global, terutama menghadapi pengaruh China yang pernah mencoba investasi di sana. Ambisi ini sudah muncul sejak masa jabatan pertamanya pada 2019, dan kini semakin intens pasca-kemenangan pemilu 2024.
Penunjukan Utusan dan Reaksi Internasional: Ambisi Trump Untuk Ambil Alih Greenland
Penunjukan Jeff Landry sebagai utusan khusus pada 22 Desember 2025 menjadi puncak eskalasi. Landry secara terbuka menyatakan tugasnya adalah “membuat Greenland menjadi bagian dari AS”, meski ia menyebutnya sebagai peran sukarela tanpa meninggalkan jabatan gubernurnya. Trump memuji Landry karena memahami betapa vitalnya pulau itu bagi keamanan dunia.
Reaksi dari Denmark dan Greenland sangat tegas. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyatakan bersama bahwa “Greenland milik rakyat Greenland” dan penyatuan dengan AS tidak mungkin. Denmark memanggil duta besar AS untuk protes resmi, menyebut langkah ini “tidak dapat diterima”. Pemimpin Greenland menambahkan bahwa mereka menentukan masa depan sendiri, meski terbuka untuk kerjasama keamanan tanpa hilang kedaulatan.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Ambisi Trump menghadapi hambatan besar karena hukum internasional melindungi integritas wilayah. Greenland memiliki otonomi luas sejak 1979, dengan pertahanan dan luar negeri di tangan Denmark sebagai anggota NATO. Pakar menyebut opsi seperti pakta asosiasi bebas mirip dengan negara Pasifik mungkin saja, tapi harus atas persetujuan rakyat Greenland yang mayoritas menolak.
Trump belum menutup kemungkinan tekanan ekonomi atau militer, tapi itu berisiko merusak aliansi NATO dan citra AS. Di sisi lain, langkah ini mendorong Denmark meningkatkan investasi pertahanan di Greenland untuk memperkuat ikatan.
Kesimpulan
Ambisi Donald Trump untuk mengambil alih Greenland mencerminkan visi ekspansi yang berfokus pada keamanan dan sumber daya di Arktik. Dengan penunjukan utusan khusus, isu ini kembali memanaskan hubungan dengan Denmark dan Greenland yang tegas menolak. Meski tantangan diplomatik besar, langkah ini menunjukkan prioritas Trump dalam memperkuat posisi AS secara global. Pada akhirnya, masa depan Greenland tetap ditentukan oleh rakyatnya sendiri, di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks menjelang akhir 2025.