Australia Minta Trump Untuk Respect ke Tentara NATO. Pemerintah Australia secara resmi meminta Donald Trump untuk menunjukkan penghormatan terhadap prajurit NATO setelah pernyataan kontroversial mantan presiden Amerika Serikat tersebut menimbulkan keresahan di kalangan sekutu. Pernyataan itu disampaikan melalui pernyataan resmi Menteri Luar Negeri Australia pada 24 Januari 2026, sehari setelah Trump kembali mengulang pandangannya bahwa negara-negara NATO yang tidak memenuhi target pengeluaran pertahanan “tidak layak dilindungi” dan bahkan bisa “didukung Rusia”. Australia, sebagai mitra dekat NATO melalui kemitraan keamanan Indo-Pasifik, menilai ucapan tersebut merendahkan pengorbanan ribuan tentara dari negara anggota yang telah bertempur bersama pasukan Amerika di berbagai misi internasional. Pemerintah Canberra menekankan bahwa penghormatan terhadap prajurit adalah prinsip dasar aliansi yang tidak boleh diganggu gugat, terlepas dari perbedaan pandangan politik. BERITA TERKINI
Latar Belakang Pernyataan Trump dan Reaksi Sekutu: Australia Minta Trump Untuk Respect ke Tentara NATO
Pernyataan Trump yang dimaksud muncul dalam wawancara televisi dan beberapa unggahan media sosial baru-baru ini. Ia mengkritik negara-negara NATO yang pengeluaran pertahanannya di bawah 2 persen dari PDB, menyebut mereka “penumpang gratis” dan mengatakan Amerika Serikat tidak berkewajiban membela mereka jika diserang. Ucapan itu langsung memicu reaksi keras dari berbagai ibu kota Eropa, termasuk dari Jerman, Prancis, dan Polandia yang memiliki kontribusi pasukan signifikan dalam operasi NATO. Australia, meski bukan anggota formal NATO, merasa perlu angkat bicara karena ikatan militer yang erat melalui AUKUS dan latihan bersama rutin dengan negara-negara Eropa. Menteri Luar Negeri Australia menegaskan bahwa ribuan prajurit NATO—termasuk dari negara kecil seperti Denmark, Belanda, dan Norwegia—pernah bertempur dan gugur di sisi pasukan Amerika di Afghanistan dan Irak. Menurutnya, mengeneralisasi dan merendahkan pengorbanan mereka hanya karena isu anggaran adalah sikap yang tidak adil dan berbahaya bagi kohesi aliansi.
Posisi Australia dan Kepentingan Strategis: Australia Minta Trump Untuk Respect ke Tentara NATO
Australia menyoroti bahwa penghormatan terhadap prajurit bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan fondasi kepercayaan dalam aliansi militer. Pemerintah Canberra mengingatkan bahwa Australia sendiri telah berkontribusi besar dalam operasi NATO, termasuk mengirim ratusan tentara ke Afghanistan selama hampir dua dekade dan berpartisipasi dalam misi pelatihan di Irak. Pernyataan Trump dinilai bisa melemahkan semangat prajurit yang masih bertugas dan merusak kepercayaan sekutu terhadap komitmen Amerika Serikat. Dalam konteks Indo-Pasifik yang semakin tegang, Australia melihat pentingnya menjaga solidaritas dengan mitra Eropa yang juga memiliki kepentingan di kawasan tersebut. Canberra tidak menuntut perubahan kebijakan anggaran NATO, tetapi meminta agar diskusi tentang pengeluaran pertahanan dilakukan dengan cara yang menghormati pengorbanan personel militer. Pernyataan ini juga mencerminkan kekhawatiran bahwa retorika semacam itu bisa dimanfaatkan oleh lawan-lawan strategis untuk memecah belah aliansi Barat.
Dampak Potensial dan Harapan ke Depan
Reaksi Australia mendapat dukungan diam-diam dari beberapa negara NATO yang enggan berbicara terbuka karena hubungan bilateral dengan Amerika Serikat. Beberapa analis menilai langkah Canberra ini strategis karena Australia memiliki posisi unik sebagai sekutu non-NATO yang tetap dianggap dekat dan kredibel oleh Washington. Pernyataan tersebut juga diharapkan mendorong dialog lebih konstruktif menjelang pertemuan puncak NATO mendatang. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa kritik terbuka bisa memperkeruh hubungan dengan pemerintahan Trump jika ia kembali berkuasa. Namun, pemerintah Australia menegaskan bahwa sikap ini bukan serangan pribadi, melainkan pembelaan terhadap nilai-nilai bersama yang menjadi dasar kerja sama militer selama puluhan tahun. Canberra berharap ucapan Trump ke depan bisa lebih hati-hati dan tidak lagi menyinggung martabat prajurit sekutu. Pemerintah juga menegaskan akan terus memperkuat kerja sama bilateral dengan negara-negara Eropa terlepas dari dinamika politik di Washington.
Kesimpulan
Australia dengan tegas meminta Donald Trump untuk menghormati pengorbanan prajurit NATO setelah pernyataan kontroversialnya menimbulkan keresahan di kalangan sekutu. Pemerintah Canberra menekankan bahwa penghormatan terhadap tentara adalah prinsip dasar yang tidak boleh dikompromikan, terlepas dari perdebatan soal anggaran pertahanan. Langkah ini mencerminkan kepedulian Australia terhadap solidaritas aliansi Barat di tengah ketegangan geopolitik global. Meski hubungan dengan Amerika Serikat tetap menjadi prioritas, Canberra menunjukkan bahwa ada batasan dalam retorika yang bisa diterima. Harapannya, seruan ini bisa mendorong diskusi yang lebih hormat dan konstruktif di masa depan. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, menjaga rasa hormat antarsekutu menjadi kunci untuk mempertahankan kekuatan kolektif yang selama ini menjadi fondasi keamanan bersama.